PAMEKASAN – Peredaran rokok ilegal kembali menjadi sorotan tajam di Pamekasan, Madura. Merek rokok ilegal Hummer disebut-sebut sebagai bagian dari jaringan bisnis gelap yang dikendalikan oleh pengusaha besar lokal dengan jejaring kuat dan diduga memiliki perlindungan dari pihak tertentu.
Isu ini kembali mencuat usai penggerebekan yang dilakukan Polres Pamekasan terhadap seorang pelaku bernama Mahendra (28) warga Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, Minggu (27/4) malam.
Dalam penggerebekan tersebut, polisi mengamankan hampir seribu bungkus rokok ilegal merek Stigma, ribuan batang rokok tanpa cukai serta sejumlah karung berisi e-tiket dan perlengkapan pengemasan bertuliskan merek HYS, Newhummer dan Surya Jaya.
Namun yang mengejutkan, Mahendra kemudian dibebaskan oleh Bea Cukai Madura setelah membayar denda administratif atau Ultimum Remedium (UR) sebesar Rp49.147.000. Proses hukum pun praktis dihentikan.
Menurut tokoh masyarakat Kadur, peredaran rokok Hummer justru tak terpengaruh penindakan tersebut. Rokok tanpa cukai itu disebut masih bebas dijual di pasaran tanpa hambatan.
“Yang ditangkap hanya kaki tangan. Sementara pengusaha besar yang punya merek Hummer tidak pernah tersentuh. Ini yang membuat masyarakat geram,” ungkap salah satu tokoh masyarakat kepada Detikzone.
Laporan investigasi media lokal juga menyebut, pengusaha di balik Hummer memiliki koneksi luas, termasuk dengan oknum aparat dan pejabat desa. Hal inilah yang diduga membuat penegakan hukum seperti berjalan di tempat.
Langkah Bea Cukai Madura yang membebaskan Mahendra dengan mekanisme UR kini menuai kritik tajam. Publik menilai bahwa kebijakan ini justru melemahkan efek jera dan hanya menyasar pelaku kecil yang tidak memiliki kekuatan politik maupun ekonomi.
“Kalau begini terus, siapa saja bisa jual rokok ilegal lalu cukup bayar denda untuk bebas. Negara rugi, masyarakat dibodohi,” tulis media Cyberjatim.
Masyarakat, aktivis pemuda hingga pelaku industri rokok legal mendesak agar Bea Cukai dan aparat penegak hukum tidak berhenti pada pelaku lapangan melainkan membongkar aktor utama yang diduga menjadi otak dari peredaran rokok ilegal tersebut.
“Negara harus hadir. Jangan biarkan hukum kalah oleh uang dan koneksi,” tegas salah satu aktivis di Pamekasan.
