SUMENEP – Penunjukan Akis Jasuli sebagai Ketua DPD Partai NasDem Sumenep oleh DPP memicu kegaduhan internal. Banyak kader menyatakan kekecewaannya.

Penunjukan ini dinilai bukan berdasarkan prestasi, tetapi hasil kompromi politik yang mengabaikan rekam jejak kegagalan.

Sebagian besar pengurus menyayangkan keputusan ini. “Kami butuh pemimpin, bukan pengulang sejarah,” ujar seorang tokoh besar NasDem Sumenep yang enggan disebut namanya.

Senada jug disampaikan Anasrullah, pengurus DPC NasDem Kecamatan Pragaan, ia mengkritik tajam langkah DPP yang menunjuk Akis sebagai Ketua.

“Penunjukan ini memperlihatkan partai jadi tempat parkir ambisi pribadi Akis. Padahal NasDem kendaraan kolektif menuju perubahan,” tegasnya.

Tak hanya itu, Akis dinilai gagal saat menjadi sekretaris partai. Ia tak mampu mengonsolidasikan NasDem pada Pemilu 2019 maupun 2024.

“Selama dua periode di DPRD, kontribusinya minim. Konflik internal, terutama soal transparansi dana kampanye, turut memperburuk citranya, ” ungkap Anas panggil karibnya.

Sebagai sekretaris DPD, sambung Anas, Akis dianggap gagal menghidupkan partai. Kaderisasi lemah, program formalitas, dan soliditas internal memburuk.

Sementara itu, Moh. Hosen, Komandan Garda NasDem Sumenep, juga menyampaikan keheranannya kenapa DPP bisa menunjuk Akis jadi Ketua DPD. Pada hal menurutnya Akis tidak pernah aktif di kepengurusan partai.

“Saya sudah 11 tahun tidak pernah ketemu dan dihubungi Akis, meski dia pernah jadi sekretaris DPD, ” keluhnya.

Di tengah stagnasi itu, DPP justru mengangkat Akis Jasuli menjadi ketua. Keputusan ini dianggap mencederai semangat perubahan dari akar rumput.

“Jika yang gagal justru naik pangkat, bagaimana nasib kader muda yang diam-diam bekerja membangun partai?” tanya Ramdan Yanuaris Salam, pengurus DPD NasDem Sumenep.

Menurutnya, Akis memang bergelar akademik dan sedang menempuh doktoral. Namun, kader menilai gelar bukan jaminan kepemimpinan efektif.

“Buku Akis soal Laut Cina Selatan tidak menyelesaikan masalah struktural di Talango atau Manding,” sindir seorang kader muda itu.

“Kami butuh pemimpin yang tahu medan lokal, bukan hanya pintar mengutip teori geopolitik,” lanjutnya.

Oleh karena itu, sejumlah kader meminta DPP tidak menjadikan Sumenep sebagai laboratorium uji coba kompromi politik.

Meski kecewa, mereka menyatakan tetap hormat pada Koordinator NasDem Madura Raya, “Aba Idi”, sebagai pemimpin regional yang sekarang juga menjabat Bupati Sampang.

Bahkan sebagia penghormatan, sebagian pengurus siap mundur jika penunjukan Akis dipaksakan. Mereka menyerukan kembalinya partai ke jalur akal sehat.

“Kami ingin partai kembali ke idealisme, bukan logika balas budi,” ujar tokoh pendiri NasDem Sumenep yang enggan disebut namanya.

Menurut mereka, penunjukan ini adalah arah politik partai ke depan: rasional dan meritokratis, atau kompromistis dan penuh beban masa lalu.

“Kami ingin pemimpin yang bekerja, bukan sekadar muncul di baliho,” tutup pernyataan Koalisi Kader Pro Perubahan DPD NasDem Sumenep.